• Arsip

  • eXTReMe Tracker
  • Kalender

    September 2010
    M T W T F S S
    « May    
     12345
    6789101112
    13141516171819
    20212223242526
    27282930  

Yang disebut “Fungsi” sintaksis di sini tidak asing bagi anda. Di SMP dan SMA anda sudah terlatih mencari “Subjek” dan “Predikat” dan “Objek” kalimat. Yang anda pelajari dulu adalah benar pada dasarnya, tetapi dasar itu sendiri kiranya kini perlu diteliti lebih mendalam. Fungsi “induk” dalam klausa itu memang Predikat. Predikat itu biasanya berupa verbal- artinya, secara kategorial Predikat itu berupa verba. Verba itu mengungkapkan suatu keadaan, kejadian, atau kegiatan. Dalam keadaan, kejadian atau kegiatan itu biasanya terlibatlah orang atau benda, satu atau lebih – dalam contoh (1) sampai dnegan (4) tadi, malah tiga (yaitu, apa yang diacu oleh konstituen ayah, beras ketan, dan saya). Orang atau benda tersebut dapat kita juluki “Peserta-peserta” dalam
keadaan atau kejadian yang dingkapkan oleh verba di tempat Predikat, dan Peserta itu berupa nominal (sekali lagi, ayah, beras ketan, dan saya dalam contoh (1) – (4)). Jumlah Peserta tergantung dari jenis verba di tempat Predikat. Amatilah contoh (5) – (8)
((7) sama dengan (2) tadi, dan (8) sama dengan (4)):
Indonesia
(5) Ibu pergi.
(6) Adik saya membangun rumah.
(7) Ayah memberikan saya beras ketan.
(8) Saya dibelikan beras ketan oleh ayah.
Yerbapergi disertai satu Peserta saja, verbamembangun ber-Peserta dua, dan membelikan ber-Peserta tiga. Verba-verba dapat digolong-golongkan menurut kemungkinan adanya satu, dua, atau tiga Peserta nominal itu, dengan istilah “valensi”: pergi bervalensi satu, membangun bervalensi dua, dan membelikan bervalensi tiga. Peserta-Peserta itu disebut “Argumen”. Argumen itu secara fungsional ada dua jenis: “Subjek” dan “Objek”. Subjek adalah apa yang berada dalam keadaan yang diartikan oleh verba di tempat Predikat, atau apa yang mengalami kejadian yang diartikan oleh verba (bervalensi satu, atau bervalensi lebih dari satu tetapi dalam bentuk pasif), atau apa yang melakukan hal-hal yang diartikan oleh verba. Jadi, dalam (5) – (8) itu, Subjeknya adalah ibu,
adik, ayah,dan saya masing-masing.Objek adalah pihak yan gmengalami tindakan yang diartikan oleh verba bervalensi dua;
misalnya, rumah dalam (6), dan baik saya maupun beras ketan dalam (7). Contoh (7) menunjukkan adanya kemungkinan adanya dua Objek: saya dan beras ketan. Bagaimana dengan konstituen yang belum diberi nama, seperti oleh ayah dalam (8), dan
untuk saya dalam (3) tadi? Konstituen tersebut bukan Argumen melainkan konstituen “Periferal”-sesuatu tambahan demi lengkapnya informasi di dalam klausa. Periferal-periferal ada yang bermacam-macam: ada yang preposisional, seperti oleh ayah dan untuk saya tadi, dan yang seperti ini tidak jauh status sintaksisnya dari Argumen; ada juga konstituen perferal yang namanya “Keterangan”. Contohnya adalah kelengkapan informasi seperti apa yang menentukan waktu (kemarin, nanti, besok) atau tempat (di sini, di Jakarta), atau modus (barangkali, tidak pasti), dan lain sebagainya-anda dipersilakan untuk menambahkan konstituen Keterangan macam ini pada (1) – (8) tadi. Berkaitan dengan Argumen, ada dua hal lagi yang perlu diperhatikan berkenaan dengan
Fungsi sintaksisnya. [i] Argumen-Argumen, secara fungsional, adalah konstituen yang tidak terikat pada sifat semantis tertentu dari Peserta yang bersangkutan. Misalnya, Subjek verba dalam diatesis aktif adalah “Pelaku”, tetapi Subjek verba dalam diatesis pasif adalah “Pengalam”, maksudnya Peserta yang mengalami apa yang diartikan oleh verba. [ii] Argumen-Argumen, secara fungsional, adalah konstituen yang tidak terikat pada bentuk kategori nominal dari Peserta yang bersangkutan. Untuk memahami hal itu,
telitilah (9) dan (10):

Indonesia
(9) (Tentang) usul ini akan dijelaskan nanti.
(10) (Untuk) dia diambilkan alat yang lain
Subjek dari (9) adalah (tentang) usul ini- dan perhatikan bahwa Subjek ini dapat disertai preposisi tentang ataupun tidak. (Dalam data linguistik, kurung bundar melambangkan kemungkinan ada tidaknya konstituen yang diapit, atau status opsionalnya. Kita tidak biasa membayangkan Subjek sebagai nomina bermarkah preposisi, padahal kita dapati Subjek yang demikian dalam banyak bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Demikian pula, Subjek dalam (10) adalah dia atau untuk dia.
Pendek kata: Fungsi sintaksis adalah konstituen yang “formal” belaka- tidak terikat pada unsur semantis tertentu (asalkan menjadi salah satu Peserta pada verba), tidak terikat juga pada unsur kategorial tertentu (asalkan nominal, bermarkah dengan preposisi atau bentuk kasus, atau tanpa pemarkahan tersebut).

Related Post:

Pengertian sintaksis

Sintaksis kalimat, sintaksis klausa, dan sintaksis frasa

Fungsi, kategori, peran sntaksis

Konstituen Inti Dan Konstituen Luar Inti Sintaksis

This entry was posted on Saturday, January 30th, 2010 at 6:02 pm and is filed under B Indonesia. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Responses are currently closed, but you can trackback from your own site.

Comments are closed.