Bagaimanakah Fungsi, Peran dan kategori “bekerjasama” dalam sintaksis klausa? Pemaparan berikut akan menjelaskan halnya.
Anda mengingat bahwa struktur fungsional klausa adalah struktur “formal”, dan dapat dikatakan juga “kosong”. “Kosong” menurut isi semantisnya, artinya menurut Peran, dan “kosong” menurut isi bentuknya, atau secara kategorial (asalkan nominal). “Kekosongan” Fungsi menurut “pengisi semantis” yang namanya Peran berarti bahwa Subjek dapat saja menjadi pelaku atau “Ajentif’, atau “Pengalam”, atau “Lokatif ‘ atau “Instrumental”. Pendek kata, haruslah ada “pengisi semantis” menurut Peran, tetapi Peran yang mana hal itu tidak bergantung hanya dari Fungsi Subjek saja. Analis yang sama berlaku untuk pengisian Fungsi Objek.
“Kekosongan” menurut bentuk secara kategorial adalah relatif: memang pengisian haruslah berupa nominal. Tetapi dapat bermarkah, dapat juga tidak bermarkah. Sebetulnya, frasa bermarkah seperti tentang usul ini dan untuk dia pada (9) dan (10) di atas adalah f rasa “nominal” hanya kalau ditentukan kekategorialannya dari sudut klausa, bukan dari sudut frasa itu sendiri. Frasa itu sendiri bukan frasa nominal melainkan frasa preposisional. Hal itu akan dijelaskan lebih rinci dalam sintaksis frasa.
Sampai di sini sifat “keformalan” struktur fungsional dipandang sebagai “kekosongan” yang perlu “diisi”. (Dalam aliran linguistik tertentu, namanya “tagmemik”, sintaksis itu terdiri atas “tempat” tertentu dan “pengisi” tertentu-jadi istilah “tempat” dan “pengisi” tidak asing bagi para ahli linguistik.) Di pihak lain, “keformalan” strukturfungsional dapat dipandang juga sebagai “relasional”;
artinya, “Subjek” bukannya sesuatu di dalam dirina sendiri (dan hanya berupa “sesuatu” menurut pengisisan menurut Peran dan menurut kategori, melainkan hanya sesuatu dalam hubungan (atau “relasi”) dengan verba. (Pandangan “relasional” ditemukan dalam aliran “Tatabahasa Relasional”.) Maksudnya, “Subjek” dapat dimengerti hanya sebagai “Subjek- dari-verba (yang di tempat Predikat)”, dan “Objek” dapat dimengerti hanya sebgai “Objek- dari-verba (yang di tempat Predikat)”. Tentu saja kita dapat mengatakan bahwa Subjek (dalam klausa tertentu) adalah (katakan saja) Si Dul, tetapi rumusan seperti itu hanya menamai Subjek itu menurut pengisian dengan bentuk (kategorial) tertentu ber-Peran Lokatif (misalnya, kota dalam klausa Tentara menduduki
kota), tetapi rumusan tersebut hanya menamai Objek menurut pengisian semantisnya, yakni menurut Peran.
Akhirnya, rasanya dalam pikiran anda sudah muncul pertanyaan: mengapa hingga kini tidak disebutkan Fungsi yang namanya “Objek tak langsung? Alasannya ialah bahwa yang “tak langsung” itu sebetulnya menyebut Penerima, atau Benefaktif, pokoknyaPeran tertentu. Dalam klausanya/i memberi saya hadiah, Peran Argumen saya adalah Benefaktif, dan Peran
Argumen hadiah ialah Pasien atau Pengalam. Akan tetapi secara fungsional keduanya adalah Objek-julukan “Objek tak langsung” mengacaukan Fungsi dengan Peran.
Related Post:
Sintaksis kalimat, sintaksis klausa, dan sintaksis frasa
Fungsi, kategori, peran sntaksis
Konstituen Inti Dan Konstituen Luar Inti Sintaksis